Thursday, February 2, 2017

Umat Islam Akan Bersatu Jika...

Umat Islam terutama di Indonesia dengan berbagai macam latar belakang dan pemikirannya telah membentuk berbagai macam keberagaman. Salah satunya adalah keberagaman dalam menelaah agamanya. Meski sama-sama berdasarkan nash ( Al-Qur’an dan Al-Hadits), namun cara mereka dalam memahami nash itulah yang beragam. Ini merupakan hal yang wajar dan terjadi dikarenakan setiap orang mempunyai pola pemikiran yang berbeda-beda.
Masalah perbedaan inilah yang akhirnya dijadikan sebagai suatu perpecahan oleh segelintir orang. Hemat penulis, perpecahan ini ditimbulkan karena seseorang memiliki mindset bahwa “pemahamannya-lah yang paling benar”, dengan dalih bahwa dirinya telah kembali kepada Nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits) dan pemahaman salafusshalih. Sebenarnya yang ia maksud adalah kembali kepada Nash Versi pemahaman mereka dan ia menolak pemahaman nash versi orang lain karena sudah tertanam mindset tersebut. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak sejalan dengan realita manusia yang memiliki pemikiran berbeda-beda, terlebih mindset tersebut terkesan sombong karena menganggap dirinya “lebih” daripada yang lain. Perbedaan ini kemudian berkembang hingga pada praktek ibadah. Dalam suatu ibadah mahdhah, sholat misalnya, lafal dari setiap gerakan ada yang berbeda, ini merupakan contoh dari keberagaman dalam memahami cara sholat nabi. Jika perbedaan tersebut sampai kepada muslim yang bermindset bahwa pemahamannya-lah yang paling benar, maka perbedaan tersebut dapat menimbulkan perpecahan. Sebaliknya, jika muslim saling memahami bahwa perbedaan ini muncul karena cara pandang yang berbeda terhadap Nash, maka tidak akan ada namanya perpecahan.
Saudaraku yang dimuliakan Allah, sudah tidak saatnya lagi kita mempermasalahkan perbedaan praktek ibadah semacam itu. Bahkan pada saat-saat  tertentu, selalu saja ada pembahasan boleh tidaknya suatu praktek ibadah. Sebagaian golongan mengatakan bahwa praktek ibadah tersebut boleh sedangkan sebagian lain melarangnya, dan ini terjadi setiap tahun bahkan bertahun-tahun seakan-akan tidak ada kata selesai dalam membahasnya.
 Habib Luthfi bin Yahya dalam salah satu ceramahnya mengatakan bahwa masalah khilafiyah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Saat ini, ada masalah yang jauh lebih besar yang menimpa umat muslim keseluruhan. Lihatlah, perusahaan banyak yang dikuasai non muslim sedangkan para perkerjanya banyak dari kalangan muslim. Stasiun TV tidak sedikit yang didirikan oleh non muslim dan umat muslim-lah yang banyak dipekerjakan seakan-akan umat muslim hanya bisa menjadi bawahan yang kerjanya diatur oleh atasan. Maka jangan heran jika non muslim berani mengambil tindakan kepada umat islam seperti memberi bantuan ke pesantren-pesantren, lha wong umat muslim nya saja selalu ribut masalah sepele dan kalah perekonomiannya sama mereka, mana mungkin bantuan datang kalau bukan dari “mereka”.
Maka dari itu, tidak mungkin persatuan Islam terutama di Indonesia bisa terjadi jika selalu ribut mempermasalahkan masalah khilafiyah sedangkan untuk mengurus skala prioritas saja tidak bisa. Mulai sekarang, mari kita sadari hal ini, dan sudah saatnyalah kita mengubah mindset kita serta bersatu membangun kebangkitan islam.

Oleh : Muhamad Syaiful Afif

1 comment:

  1. Lumayan bagus coretannya, namun kurang mendalam....

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)