Monday, March 10, 2014

Surat Untuk Bunda



Dear, Bidadari tercantik yang menyapa hidupku.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Ibu, masih ingatkah engkau dikala hari pertama kau pergi?
Saat itu, aku membantu membereskan segala perlengkapan keberangkatanmu ke negeri timur sana. Kau masih tersenyum penuh kelembutan dan tetap menyajikan sepiring nasi goreng kesukaanku.
Aku masih bisa merasakan genggaman tanganmu yang menuntunku ke dapur saat itu. Kau berkata
“Teh, kalau mau masak barangnya disini, ini tempat bumbu-bumbu masakan. Inget, kalo udah masak bereskan dan bersihkan, jangan jorok.”
 Begitulah nasehatmu. Aku hanya megangguk dan mengiyakan. Tak penah terbayang ditinggal pergi jauh olehmu, tak pernah mengira ini adalah privat terakhir darimu. Seharusnya aku lebih perhatian dan sungguh-sungguh memperhatikan dan melaksanakan semua harapanmu, bu.
Masih dalam kenangan yang sama. Anakmu yang masih manja ini merindukan pelukan hangat darimu. Walau aku telah beranjak dewasa, bagiku.. pelukanmu adalah harta yang berharga dan tak kan bisa tergantikan.
Ibu, malaikatku..
Masihkah kau ingat bisikanmu dalam pelukan terakhirmu di pagi itu?
Aku masih sangat ingat, bahkan basahnya jilbabku karena air mata perpisahan itu masih terasa nyata kini.
Kau berpesan, “Jaga adik-adik ya teh. Ibu minta maaf.” Suara parau dan terhiasi isak tangis itu masih terngiang di ingatanku.
Ibu, bagaimana keadaanmu disana? Apakah cuaca panas disana membuat kulitmu hitam?
Apakah pekerjaanmu disana membuat pegal kaki dan tanganmu?
Ibu, jika aku ada disisimu, aku ingin memijat kaki dan tangamu. Agar lelahmu itu terusir, pergi menjauh.
Ibu, bagaimana kabar lambungmu? Masih sering sakitkah seperti dulu?
Jangan terlalu kerasa bekerja dan melupakan kesehatanmu. Karena aku tak bisa mengelus tanganmu atau sekedar membelikan satu tablet obat bagimu, seperti dulu.
Ibu, anakmu ini masih berproses disini. Maafkan aku yang masih menengadah meminta padamu. Namun, aku berjanji, bu.. aku janji, aku akan membalas buliran kerigatmu dengan kebanggaan dan kebahagiaan. Akan ku lukis senyuman di wajah teduhmu.
Maafkan aku, ibu..
Karena aku tidak sempat menanyakan apa harapanmu padaku saat itu?
Walau tak terkata, ku tahu. Kau hanya ingin aku hidup sebagai wanita yang benar dan mulia. Yang menyejukan dengan keindahan akhlak dan tutur katanya, yang membanggakan dengan ilmu manfaatnya.
Ibu, gadis kecilmu ini telah dewasa kini.
Pulanglah, sudah cukup lelahmu. Kini giliranku, yang membahagiakanmu.

Di bawah naungan awan putih negeri Pertiwi

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)