Thursday, November 21, 2013

Malaikat-malaikat Kecil Berwajah Polos

Selasa, 19 November 2013

Kaki ini melangkah keluar dari ruang Maternal sebuah rumah sakit. Ruangan yang cukup intensif, sehingga tak bebas orang bisa masuk seenaknya. Jikapun bisa masuk, hanya segelintir orang, itupun harus dengan kostum pakaian yang telah disediakan oleh rumah sakit. 

Setelah beberapa jam berada di dalam, saya harus keluar untuk memberi kesempatan pada 2 tamu yang akan turut menjenguk. Memilih duduk di kursi, bersama para pengunjung lainnya. Ada berbagai ekspresi wajah di sana. Sesekali ku dengar kabar bahagia atas hadirnya malikat kecil dalam hidupnya. Sesekali ku dengar cemas kekhawatiran atas anggota keluarganya. Adapula yang kebingungan mencari di mana keluarganya berada. Semuanya kumpul dan sejenak mengistirahatkan fisik di kursi panjang itu.

Satu menit... dua menit... tiga menit...
Tak jenak rasanya, hanya menunggu duduk tanpa beraktifitas sedikitpun. Tiba-iba sorot mataku tertuju pada kerumunan orang yang berdiri tepat di depan kaca jendela sebuah rungan. “Ada apa??” benakku penuh tanya. Sempat juga khawatir, jika di sana ada satu pasien dengan sakit yang parah, hingga saya pun enggan dan berpikir ulang untuk turut mendekat. Sungguh hati rasanya gak tega kalau harus melihat kondisi yang tidak menyenangkan. 

Tapi untuk kedua kalinya, ku coba memandang untuk secara lebih detail. Tersirat wajah yang tak menampakkan kecemasan, kekhawatiran atau pun kesedihan, namun yang tampak justru wajah dengan semburat senyum bahagia. 

Dari kejauhan, akupun ikut senyum sendiri, mulailah terbesit hal indah dalam benakku, yang akhirnya mendorong kakiku untuk melangkah menuju kerumunan itu. Dan ternyata dugaanku memang benar, “Subhanallah....” tak habis bibirku menggumbar senyum manis, sembari bertasbih dalam hati. Tak peduli dengan siapa yang ada di sekelilingku. Mataku benar-benar seolah ditarik kuat oleh sosok-sosok di dalam ruangan itu.  

“Malaikat-malaikat kecil berwajah polos”.... benar-benar seperti orang yang kesemsem. Ku dekatkan wajahku ke kaca jendela lehib dekat, dan lebih dekat lagi. Senyumku semakin mengembang. 





Bayi-bayi imut nan lucu, berjejer di dalam ruangan itu. Berada di dalam box, masing-masing begitu mempesona memamerkan wajahnya yang polos dan masih begitu natural apa adanya. “Subhanallah...” bibirku semakin tersenyum lebar.

“Siapakah kau???” sungguh menyejukkan pandangan mata, pembawa angin segar bagi dunia.
 
Ku pandangi satu persatu, imut... sungguh sangat imut. Tak bosan mataku memandang. Lalu, mata ini tertarik memandangi satu box, dimana ada yang berbeda dari yang lain. Benar-benar lama mata ini tak berkedip memadangi box itu. “Subhanallah,,,, betapa kecilnya malaikat itu. Dengan posisi tidurnya yang tengkurap. Sungguh-sungguh masih sangat mungil, sampai-sampai saking kecinya, pampers yang dikenakannya bisa menutup seluruh tubuhnya layaknya sebuah baju. 
 
Seorang bapak berceletuk, “ ih bayinya hebat, kecil-kecil udah bisa push up... padahal beratnya Cuma 12 ons ”

Saya hanya tersenyum, semakin takjub. “Subhanallah, betapa agung kuasa-Nya...”
Sempat ingin meneteskan air mata haru, takjub dan bahagia. Hatiku gemuruh merasakan kebahagiaan, layaknya rasa yang dialami bapak-bapak yang berada di sampingku. Lebih tepatnya, 2 orang bapak yang dengan senyumnya yang mengembang, memandangi malaikat kecilnya yang sedang digendong dengan penuh kehangatan oleh sang ibunda yang telah berjuang menghantarkannya ke bumi ini. Dengan penuh kasih sayang diberinya ASI yang itu adalah tegukan-tegukan pertamanya di saat-saat pertamanya menjadi makhluk-Nya. Air ajaib, air syurga yang khusus disediakan hanya untuk malaikat kecil itu.

Ku pandangi keluarga kecil itu, yang sesekali mereka saling melempar senyum, berkomunikasi meski tanpa suara, dan hanya dengan gerakan tangan dan bibir yang seolah memberikan isyarat ungkapan kebahagiaan. Kaca jendela menjadi saksi kebagiaan keluarga kecil itu. Sungguh saya takjub dan tak kuasa meneteskan air mata haru, menyaksikan rona kebahagiaan di sana. 

Sejuk sekali rasanya memandangi keluarga kecil nan bahagia itu. Benar-benar malaikat kecil yang memberikan semilir angin kebahagiaan bagi siapa saja yang mendapatkan karunia itu. 

Ketakjubanku tak kuasa ku bendung, dan membuatku tersipu malu, dan akhirnya menuntunku untuk sejengkal melangkah menuju ke salah satu sisi yang lain. Di ruang lainya, ternyata masih ada malaikat-maaikat kecil berwajah polos lainnya. Sendiri dalam kotaknya, berekspresi natural apa adanya, tanpa ada rekayasa dari yang lain. Wajah polos dengan aura syurga yang begitu menyejukkan pandangan. Sesekali digerakkannya tangan mungilnya, sesekali ia kerutkan wajahnya, seolah ingin mengekspresikan sesuatu. Sesekali ia ingin menangis namun tak ku dengar suara itu...

Subhanallah,,, detik-detik itu benar-benar sangat menyenangkan. Rasanya ingin sesering mungkin menginjakkan kaki di tempat itu lagi, sekedar ingin merasakan suasana syurga dengan aura malaikat-malaikat kecil berwajah polos itu. Senyum benar-benar tak lepas ku umbar dari bibirku. Subhanallah.... Subhanallah.... Subhanallah. Tak ingin beranjak dari tempat itu sebenarnya, namun waktu mengharuskanku melangkah menjauh, meninggalkan senyum-senyum bahagia dari ayah-bunda, dan  meninggalkan ekspresi-ekspresi lembut malaikat kecil berwajah polos. Dalam benakku berkata, “kelak nanti, aku ingin kembali ke sini lagi, sekedar ingin memandangi wajah malaikat-malaikat kecil berwajah polos”

Subhanallah, di tempat yang sebenarnya tak ku suka, dan di tempat di mana aku selalu merasa merinding dan ketakutan saat menginjakkan kaki di sana, namun sekarang aku menemukan tempat istimewa, layaknya taman-taman syurga, yang ketika memandangnya senang hati ini, sejuk mata ini. 

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)