Tuesday, April 16, 2013

SEMNAS Al-QURAN " Bumikan Al-Quran, Selamatkan Generasi, Muliakan Negeri"

 “Hari ini kita memimpikan untuk membumikan Al-Qur’an, insyaAllah entah itu lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi akan terbukti menjadi kenyataan.”(Ust. Abdul Aziz)
Begitulah salah satu nasehat dari salah satu pembicara Ustad Abdul Aziz Abdurrauf Lc Al Hafidz, pimpinan Markaz Al-Quran Jakarta dalam seminar Al-Quran Naional yang bertema ‘’BUMIKAN AL-QURAN, SELAMATKAN GENERASI, MULIAKAN NEGERI’’ yang dilaksanakan pada hari Minggu, 7 April 2013 di Gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalikaga Yogyakarta. Seminar ini juga menghadirkan pembicara Ustad Dr. Hidayat Nur Wahid serta Taujih dari Ustad Dr. Tulus Mustafa Lc. MA selaku ketua PW IKADI wilayah DIY. Seminar ini diadakan dalam rangkain acara Muqhoyyam Nasional Akhwat ke-2 di DIY yang terselenggara atas kerjasama antara IKADI, Markaz Al-Quran Jakarta dan Hias Organizar dengan peserta yang hadir mencapai kurang lebih 2000 orang. 
 
Dalam seminar ini diungkapkan bahwa Istilah ’’Membumikan Al-Qur’an’’ yaitu bahwasanya Al-Qur’an itu supaya tersebar di muka bumi, yakni segala tingkah laku manusia khususnya umat muslim semua berdasarkan atas petunjuk Al-Qur’an. Untuk membumikan Al-Qur’an maka harus dimulai dari keluarga terlebih dahulu. Karena keluarga adalah lingkup masyarakat terkecil sebelum ke masyarakat yang lebih besar. Dari keluargalah nilai-nilai Al-Qur’an itu tertanam pada tiap pribadi muslim. Maka, sebelum Al-Qur’an ini membumi di negeri, maka bumikanlah Al-Qur’an itu kedalam setiap diri pribadi muslim.
Al-Qur’an itu bagai musim semi bagi manusia. Al-Qur’an bagai telaga di padang sahara. Bagai cahaya dalam gulita. Ia menyinari jiwa bagi yang mengamalkannya. 

Alhamdulillah, banyak dari kita yang sudah beriman kepada Al-Qur’an atas kehendak Allah, namun kita lihat masih banyak yang enggan untuk sekedar membacanya saja, apalagi mentadabburi atau menghafalkan bahkan  mengamalkannya. Masih tersa berat di lisan untuk membacanya. Maka sebagai seorang muslim, hendaklah berinstropeksi diri. 
Ketika seseorang itu sudah bisa bertahan dan istiqomah dalam membaca Al-Qur’an, maka ada hal lain lagi yang menjadi kendala, yaitu enggan untuk mentadabburinya. Semangat dalam membaca bahkan sampai berhalaman-halaman, ia terlalu sibuk menghitung lembaran demi lembaran, sehingga lupa untuk mentadabburinya. Dan akibatnya, tidak faham dengan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut. Itu juga patut untuk kita instropeksi terhadapnya.
Oleh karena itu, ketika sudah semangat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka jangan hanya semangat dari sisi teknis saja, tapi juga dari sisi syar’ie-nya. Menurut ustadz Abdul Aziz dalam seminarnya, beliau mengatakan bahwa ada lima semangat untuk memperbaiki interaksi kita dengan Al-Qur’an entah itu dalam membacanya, mentadabburinya, menghafalnya, dll. Kelima semangat tersebut yaitu:
1.      Semangat ta’abbudiy
Semangat bahwa dengan Al-Qur’an kita bisa semakin meningkatkan ibadah kepada Allah. Membaca Al-Qur’an termasuk ibadah yang akan mendapat pahala di sisiNya. Tiap huruf yang dibaca mendapat satu kebaikan. Dengan itulah, kita semangat untuk membacanya.
2.      Semangat ta’allumiy
Al-Qur’an harus bisa menggerakkan diri kita, baik secara langsung maupun tidak langsung, supaya Al-Qur’an itu dikaji oleh masyarakat luas. Al-Qur’an harus dijadikan materi utama yang harus dipelajari.
3.      Semangat Tarbawiy
Al-Quran hendaknya menjadi cermin bagi diri kita. Saat kita membacanya, mentadabburinya, atau menghafalnya, maka kita tanya pada diri masing-masing, Apakah kita sudah sesuai seperti apa yang Al-Qur’an inginkan. Ketika kita membaca surat Al-Fatihah saja misalnya, ketika sampai pada ayat lima, “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin” , kita patut bertanya pada diri kita, apakah sudah benar-benar hanya kepada Allah kita beribadah?! Dan hanya kepada Allah saja kita meminta pertolongan?! Kalau belum, maka harus kita perbaiki cara ibadah kita kepada Allah.
4.      Semangat da’awwiy
Al-Qur’an itu harus menjadi penggerak-penggerak kita untuk berdakwah. Kalau sudah semangat ber Al-Qur’an tapi tidak memiliki semangat dakwah, maka Al-Qur’an hanya akan sekedar terbaca tanpa ada realita.
Sebagai contoh misalnya QS: 2 ayat 183 perintah untuk berpuasa ramadhan, dan ayat 176 perintah untuk menegakkan hukum Qishash. Redaksi perintahnya sama, namun realita pelaksanaanya berbeda. Yang satu diimani dan diamalkan, yang satu masih banyak yang belum mengimaninya. Maka ini harus kita dakwahkan, supaya semua perintah Allah bisa tegak diatas bumi.
5.      Semangat jihadi
Al-Qur’an ditunkan agar kita tidak terfitnah atas upaya-upaya orang kafir dalam memusuhi dakwah islam. Ingatlah, sesungguhnya ketika kita membaca surat taubah kita sedang dibangun semangat jihad kita. Begitu pula ketika membaca surat ataupun ayat yang berkaitan dengan jihad seperti QS Ash-Shaf, An-Nisa, dll.
Dalam seminar ini juga sekaligus di launcing Rumah Al-Quran, program untuk santri mukim anak yatim dan dhuafa
Semoga Al-Qur’an membumi dalam pribadi kita, yang kemudian akan membumi di permukaan dunia.
.
Semangat untuk membumikan Al-Qur’an.!!!
(rep: Dewi Maryam)
Berdasarkan seminar Al-Qur’an di MP UIN Suka, pada tanggal 7 april 2013 dengan pembicara ustadz Abdul Aziz Ar-Rauf, Lc

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)