Monday, April 8, 2013

Mereka Mengabdi, Mereka Abadi


"Kesigapan" 


TIDAK ada yang membuat usia para imam mazhab, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi', Imam Malik dan Imam Ahmad terus memanjang hingga Hari Akhir kecuali dakwah yang mereka jalankan. Tidak ada pula yang membuat lisan Mukminin mendoakan para sahabat kecuali jihad Islam yang mereka lakukan.

Kehidupan orang-orang shalih di atas cukup bersinar karena mereka sigap menyambut dua panggilan: jihad dan dakwah Islam.

Namun, kesigapan itu tidaklah datang tiba-tiba, seperti durian runtuh. Ia adalah buah dari keimanan yang kuat kepada Allah SWT. Kesigapan memenuhi panggilan-Nya merupakan hasil dari proses pemahaman yang benar terhadap janji-janji Allah di akhirat.

Orang yang sigap adalah mereka yang tidak pemah tertipu dengan kehidupan fana di dunia. Tujuan akhimya adalah negeri akhirat yang abadi. Karenanya, sedikit pun mereka tidak pernah mau melalaikan kehidupan sesungguhnya tersebut dan akan terus berusaha untuk meraihnya.

Kekuatan iman ini yang menyebabkan Anas bin an-Nadhr memberikan respon spontan kepada sahabatnya, Saad bin Muadz pada perang Uhud dengan ucapan, "Ya Sa’ad. Surga... surga...aku mencium baunya di bawah bukit Uhud.” Setelah itu, ia maju hingga menjemput syahid. Dan jenazahnya tak dapat dikenali, kecuali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya.

Kekuatan ini pula yang kemudian membangkitkan ghirah Mohammad Toha, pahlawan asal Bandung untuk maju ke benteng pertahanan penjajah hingga menjemput syahid di sana. Karena pengorbanannya itu, kota Bandung jadi lautan api sehingga niat penjajah kolonial untuk menguasai Tanah Pasundan ketika itu, pupus.

Persoalan yang kita hadapi di dunia ini memang tidak ringan. Ia datang baik dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita. Bentuk tekanan itu pun beraneka macam, mulai dari problem sosial, budaya, lingkungan dan ekonomi.

Namun, berbagai masalah itu, seyogianya tidak membuat kita, kaum Muslimin kehilangan kesigapan menyambut seruan dakwah dan jihad Islam. Yakinlah, kemuliaan kita di sisi-Nya tergantung pada kesigapan kita menyambut seruan dakwah dan jihad ini. []

Rivai Hutapea

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)