Friday, December 21, 2012

Pluralisme dan Toleransi, Apakah sama?

Dalam dekade terakhir, umat islam dibingungkan dengan adanya trend prularisme. Banyak wacana yang berkembang mengenai makna pluralime sendiri. Tapi  yang akan dibahas disini adalah pluralisme agama. Pluralisme agama itu sendiri  adalah paham yang menganggap bahwa semua agama adalah benar. Jika  pluralisme itu bermakna toleransi yang berarti menghargai setiap perbedaan maka hal itu masih dibolehkan, akan tetapi jika dibawa keranah agama maka pluralisme ini menjadi tidak diperbolehkan. MUI telah mengeluarkan keharaman mengenai pluralisme agama ini.


Apakah upaya penyamaan agama ini terjadi hanya saat ini?.  Adanya tafsir ibnu katsir, asbabul nuzul surat al-kafirun menerangkan pemuka Quraisy menemui Rasullulah, lalu memberikan penawaran teologis, “Wahai Muhammad terimalah Tuhanku, dan kamipun akan menerima Tuhan Mu, jika kamu menyembah Tuhan ku, maka aku akan menyembah Tuhanmu selama setahun”. Jawaban rasullulah: “Aku berlindung dari perbuatan syirik”. Apakah mereka sudah menyerah?? Tidak. Mereka berkata, “Begini saja Muhammad, terimalah sebagian dari Tuhan  kami, maka kami akan menyembah Tuhanmu”. Rasullulah tetap menolak. Maka turunlah surat al-kafirun. 


Untuk menghalangi dakwah Rasulullah, mereka pun juga menawari materi (kekayaan), kekuasaan (jabatan), dan wanita. Tetapi semua itu Rasulullah tolak.


Selanjutnya mereka melakukan penawaran kepada Abu Thalib, orang yang sangat dihormati dan disayangi oleh Rasul, untuk menghentikan dakwah Rasulullah.  Jika tawaran itu diterima, maka tidak aka nada pertikaian ataupum permusuhan. Rasullulah menjawab, “Demi Allah, seandainya  mereka meletakan matahari di tangan kananku dan bulan ditanganku untuk meninggalkan perkara ini, maka aku tak akan goyah, sampai Allah memenangkannya atau aku hancur  karenanya. “


Dalam Surat Az-Zumar, Allah berfirman, “Apakah selain Aku kalian menyembah, wahai orang2  jahil …?”. Jahil disini maknanya bukan bodoh. Ibnul Qoyim menjelaskan termasuk makna jahil adalah meletakan sesuatu tidak pada tempatnya, dalam artian mengganggap yang salah adalah benar. Hal ini akan berakibat pada kedzaliman yang besar yaitu meletakan makhluk sebagai yang disembah, menyamakan makhluk dengan Allah. Dan sekarang yang terjadi pada kita adalah melihat yang benar dengan yang salah, dan yang salah dengan yang benar. Sehingga yang terjadi adalah sebuah kesalahan dalam konsep ilmu. Pemahaman ilmu yang salah, otomatis akan mengakibatkan amal yang salah. Rusaknya amal berindikasi kita tidak mersakan ketenangan dan kenyamanan  dalam kehidupan ini .


Pluralisme sebenaranya kepanjangan dari dunia barat yakni sekuler dan liberal. Jika diteliti sejarah, pluralisme muncul pada abad 18, yakni ketika pemuka Kristen prostestan  merespon sikap keagamaan di eropa. Dan ini tentunya tidak sama dengan islam. Dalam perkara akidah tidak ada yang bisa ditawar. Aqidah tidak bisa digadaikan sebagai alsan untuk kita rukun. Maka kita tidak bisa menerima semua agama itu sama. Dalam  jurnal islamia bahwa banyak agam menolak konsep ini. Paus yang sekarang memimpin, menolak keras tentang pluralisme. Pusat kajian di Wana mengatakan pluralime itu merusak.


Beda dengan toleransi dalam islam. Contoh toleransi rasulullah terhadap  Yahudi diantaranya adanya piagam madinah. Yang isinya adanya pengakuan yang sama antara hak dan kewajian Yahudi dengan umat islam sendiri. Dalam suatu riwayat dikatakan, ada jenazah yang lagi diusung. Maka rasullulah berhenti, lalu sahabat bertanya, “Rasul bukankah ia ini Yahudi?” jawab Rasul, “Bukankah dia manusia”. Dalam muamalah Rasulullah selalu bertoleransi. Walaupun rasul tahu orang Yahudi pernah berusaha meracuni dan berusaha membunuh Rasullulah. Kaab bin Azra membakar kios muslim. Kasus pelecehan Yahudi terhadap perempuan dan dibela oleh seorang muslim yang akhirnya dibunuh. Ketika itu rasul masih bersabar hingga  perang Khandaq yang ketika itu Yahudi berkhianat. Maka Rasul langsung mengusir mereka.


Inilah yang namanya tolerasi dalam islam, adanya rasa menghargai menghormati, memandang sama dalam masalah agama. Umar bin Khattab sangat tegas terhadap Yahudi. Apalagi setelah peristiwa penghianatan di perang khandak. Tapi umar tidak sampai dibutakan. Ingat ketika peristiwa ada orang Yahudi yang tergeser rumahnya karena adanaya pembangunan masjid oleh gubernur di Mesir. Lalu orang Yahudi tersebut melaporkan peristiwa tersebut kepada Umar. Maka umar memberikan tanda irisan pedang   disebuah  tulang. Ketika  tulang itu ditunjukan ke gubernur maka gemetarlah gubernur itu, lantas orang yahudi itu menjadi heran. Dengan tulang itu mengingatakan kamu akan mati seperti tulang ini dan kamu pasti akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan saat ini atau nanti di akherat. Makna goresan ini adalah jika saat ini kau tidak sadar maka pedanglah yang akan berbicara. Inilah toleransi kepada siapapun tetap adil. Tapi dalam hal prinsip (aqidah) tidak ada toleransi.


Dalam perayaan hari besar pun , umat islam dilarang mengucapkan selamat kepada mereka karena hal ini berarti sama merestui atau meridhoi kemusyrikan mereka. Bagaimana cara memahamakan kepada mereka?  Katakan “bahwa dalam agama kami hal seperti itu tidak boleh, itukan termasuk simbolik lebih baik kami tidak mengucapkan tapi dalam substansinya kami menghormati, tolong menolong, dari pada kami mengucapkan selamat, tapi dalam kehidupan seharinya ada pertikaian disitu, jadi dalam toleransi lebih kepada substansi daripada simboliknya, kami gak hadir atau gak mengucapakan selamat bukannya tidak toleransi”. Rasullah kepada orang yang non-muslim yang setiap hari melempari  kotoran setiap Rasul lewat saja tetap sabar, sampai suatu saat orang itu tidak melemparinya kotoran. Lalu dicarilah info tentangnya, dan  ternyata orang itu sedang sakit. Rasul langsung menjeguk dan membawakannya makanan. Itulah toleransi yang dicontohkan Rasullulah. Begitu juga dengan seorang nenek Yahudi yang buta yang disuapi Rasul setiap hari sampai beliau wafat walau nenek buta tersebut selalu memaki Rasul.


Dalam buku Misykat karangan Dr Ahmad Fahmi Zarkasy menyebutkan bahwa menjadi sekuler, liberal atau puralismepun tidak menjamin seseorang untuk otomatis menjadi toleran. Dalam halaman 177 dicantumkan contohnya.


Kelemahan umat muslim sekarang dalam pembelaan agama  ketika terjadi penyudutan terhadap islam karena adanya kasus yang dibesar-besarkan oleh media masih bersifat normative, mengandalkan bahwa dalam Al-Quran tidak ada yang namanya kekerasan, kekerasan itu dilarang , toleransi itu dianjurkan. Yang diperlukan sekarang adalah sudah seharusnya umat islam dalam pembelaannya berbasis penelitian atau data. Sebagai contoh ketika umat islam diidentikan dengan bom bunuh diri. Maka ada seorang muslim di Indonesia yang melakukan penelitian dengan pengumpulan data dari berbagai Negara yang dibuat dalam sebuah paper yang dipresentasikan di Amerika. Yang ternyata bom bunuh diri terbesar pelakunya bukan dari umat Islam dan sebagian pelakunya adalah dari wanita.


By: Johan Rubiyanto

Berdasarkan hasil kajian  pekan keislaman(KPK),

 15 Desember 2012 di Masjid kampus UIN Sunan kalijaga

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)