Thursday, December 13, 2012

IBU DAN MASA DEPAN ISLAM



Ibu adalah sosok urgent dalam kehidupan ini. Ibu adalah  madrasah pertama bagi anak-anak. Maka peran ibu pulalah yang akan sangat berpengaruh terhadap baik buruknya masa depan bangsa ini. Tak heran jika kita menaruh perhatian lebih akan pendidikan bagi seorang ibu. Dan semua itu membutuhkan cara dan proses yang baik, agar dapat tercapai generasi ibu yang tak hanya pandai namun juga sholihah, hingga kelak mampu menghantarkan generasi-generasi penerus yang dapat melanjutkan estafet perjuangan Rasulullah dalam menegakkan kalimatullah.

Sebagai mahasiswa yang nantinya juga akan menjadi seorang ibu, sudah selayaknya persiapan-persiapan dan ilmu akan hal tersebut kita dapatkan. Namun tak hanya untuk para muslimah (calon ibu, maupun ibu) saja, generasi ikhwanpun perlu belajar serta mengetahui akan hal tersebut. Sebab mereka adalah pemimpin bagi para akhwat nantinya, yang tentunya didikan mereka juga akan berpengaruh. Setidaknya ketika mereka (ikhwan) mengetahuai akan ilmunya, mereka juga akan mampu mengarahkan. 

MULAI SEJAK DINI
Rasulullah dahulu juga berdakwah di kalangan pemuda, seperti Ali, Fatimah, Aisyah dan masih banyak lagi. Hal tersebut menandakan bahwa memang harus ada kaum pemuda yang benar-benar dipersiapkan sejak dini untuk Dakwah.

Lihatlah, dulu diusianya yang masih muda, Aisyah telah mampu menghafal 2000 lebih hadist yang diriwayatkan. Tapi lihatlah pemuda sekarang, banyak dari mereka seringnya membicarakan hal-hal berbau hiburan, mulai dari film, lagu-lagu. Sampai –sampai puluhan lagu dengan bahasa asing yang belum tentu mereka mengerti maknanya pun mereka hafal dari kata pertama sampai kata terakhir, tapi ketika disuruh menghafal satu ayat al-Qur’an atau satu hadist saja mereka sudah mengeluh kesulitan.

Sudah selayaknya kita mengubah fenomena tersebut, dengan menanamkan sejak dini  nilai-nilai agama dalam diri kita, agar dapat menjadi kepribadian yang baik dan patut untuk diteladani bagi orang lain.

JADIKAN KAMPUS SEBAGAI PONPES MODERN
·     Yaitu dengan menjadikan lingkungan ini sebagai Al-Qur’an berjalan. Sehingga al-qur’an tidak hanya ditulis dan dibaca saja tapi juga diaplikasikan dalam kehidupan nyata kita.

·         Dan cobalah untuk mendakwahkan kata-kata, bukan kata-kata yang didakwahkan. Artinya bahwa apa yang kita dakwahkan adalah apa yang kita lakukan. Sehingga dakwah yang kita sampaikan itu dapat terlihat langsung dan dapat diteladani langsung oleh orang lain. Berbeda jika kita hanya mendakwahkan kata-kata, itu berarti bahwa kita hanya menyampaikan dakwah dengan kata-kata, tanpa kita berikan contoh langsung berupa sikap atau perilaku kita.
Contohnya Rasulullah sendiri, dulu suatu ketika akan berdakwah tentang Kejujuran, maka sebelumnya rasulullah telah melakukan kejujuran tersebut terlebih dahulu. Sehingga apa yang disampaikan tampak nyata dan dapat diterima oleh umatnya.

·         Janganlah bersikap ekslusif, tapi bersikaplah ramah dan mudah berbaur dengan siapa saja. Karena orang seperti inilah yang justru dakwahnya akan bisa diterima. Karena disaat berbaur, bukan ia yang terbawa namun dialah yang mampu membawa yang lainnya. Ia mampu membawa orang lain untuk ikut dalam kebaiakan. 

JADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI TEMAN DEKAT
AL-Qur’an hendaknya kita baca, pahami, pelajari, amalkan, dan ajarkan. Dimanapun kita berada, budayakan untuk senantiasa bersama al-Qur’an.

-         Sedang menunggu teman, dari pada hanya duduk melamun lebih baik membuka al-Qur’an dan cobalah membaca dan menghayati terjemahannya meskipun hanya sedikit. Sehingga lingkungan kita terkondisikan layaknya pesantren modern.

Ada sebuah kisah, ada anak usia 14 tahun, dia orang Belanda dan dia non-muslim. Suatu hari ia pergi ke toko buku, di sana ia mendapati sebuah buku di atas meja, yang kemudian ia buka. Ternyata di dalamnya ada tulisan arab dan disertai dengan bahasa Belanda. Dibacalah buku tersebut. Ia takjub dan tertarik dengan isi buku itu.
Hari selanjutnya, karena merasa begitu takjub dengan buku tersebut, ia pun kembali ke toko buku untuk membaca kembali buku itu. Timbul rasa penasaran sehingga ia mencoba bertanya pada penjaga toko, “Buku apakah ini??” dan dijawablah oleh sang penjaga toko, “Itu Al-Qur’an.”
Ketika ia kembali pulang dan bertemu dengan temannya yang beragama Islam, ia menceritakan tentang pengalamannya tersebut. “Aku tadi membaca kitabmu loh...., ternyata isinya sungguh sangat luar biasa, aku takjub dengan isinya.”

Mendengar kisah tersebut, temannya membawanya pergi ke seorang ustad. Disana ia kembali menceritakan kisahnya. “Subhanallah.... inilah hidayah dari Allah,” ucap sang ustad. Anak tersebut kemudian disarankan untuk masuk Islam, dan dia sangat bersedia. Lalu dibawalah anak itu bertemu dengan orangtuanya dan meminta izin untuk masuk Islam, dan subhanallah jalan telah dimudahkan oleh Allah, orangtuanya dengan mudah memberikan izin, “Kamu sudah dewasa nak, kamu berhak memutuskan apa yang kamu yakini. Lakukanlah jika kamu memang yakin.” Alhasil, dibawalah anak itu ke masjid dan kemudian bersyahadat di sana.

Bagi anak itu, ketika ia membaca al-Qur’an ia merasa berbicara/ berdialog langsung dengan Allah. Subhanallah..... coba renungkan pada diri kita sendiri, yang sejatinya memang telah menjadi muslim sejak dari lahir dulu, berapa kalikah kita merasa takjub ketika membaca Al-Qur’an?? Kebanyakan dari kita mungkin merasa biasa-biasa saja ketika membacanya, hanya berlalu begitu saja layaknya rutinitas membaca buku biasa. Itu karena hati kita belum terbuka. Maka sebelum membaca mohonkanlah doa, “Bismillah..... tuntunlah aku dengan ayat-Mu ya Allah...”  

-         Dengan membaca al-Qur’an maka tak kan ada kata “galau” atau sejenisnya hinggap di hati kita. Karena setiap persoalan ada penyelesaiannya di dalam al-Qur’an yang membuat kita tenang menjalani hidup.

-         Ketika ada masalah yang membuat hati kita “panas”. Solusinya adalah segera berwudhu, sholat, kemudian membaca al-Qur’an beserta terjemahannya.
-         Selalu yakin bahwa yang mensukseskan adalah Allah, maka segala sesuatu diawali dengan Taqarub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), maka hasilnya pun akan lebih terasa berkah bagi kita.
BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANGTUA

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا (٢٣)وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (٢٤)

QS.Al-Israa’ (17):23-24

Inti dari kandungan ayat tersebut adalah bahwa Allah memerintahkan kepada kita untuk:
-         - Bertauhid hanya kepada Allah semata
-         - Berbuat baik kepada kedua orangtua, karena ridho Allah bersama dengan ridhonya orangtua.

Marilah intropeksi diri, apakah kita telah menjadi “Qurota’ayun” bagi orangtua kita?? Karena jika belum, hal tersebut bisa menjadi salah satu penghalang terkabulnya doa kita.

Ada sebuah renungan, kisah seorang laki-laki yang teramat sayang dengan isterinya. Saking sayangnya, hingga setiap apa yang diinginkan oleh isterinya ia penuhi. Dan suatu ketika, isterinya meminta agar ia mengatakan pada ibunya untuk tidak sering-sering berkunjung ke rumah. Benar, laki-laki tersebut menuruti kemauan isterinya, hingga hubungannya dengan ibunya menjadi memburuk. Sang ibu merasa sakit hati dengan perlakuan anaknya tersebut, sampai keluarlah perkataan yang kurang mengenakkan dari mulutnya.

Waktu berlalu, suatu hari laki-laki itu mengalami insiden perampokan setelah ia mengambil uang di ATM. Tangannya terluka parah. Dari kejadian tersebut ia berintropeksi diri, dan menyadari kesalahan yang diperbuatnya pada sang ibu. Ia akhirnya meminta maaf pada ibunya dan ibu pun dengan senang hati memaafkan kesalahan anaknya tersebut. 

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa seberapa cintanya kita terhadap sesuatu/ seseorang maka janganlah lupa dengan orang yang selalu mencintai kita lebih dari siapapun di dunia ini. Jangan pernah sakiti hati orangtua kita.

PESAN UNTUK PEMUDA

- Jadilah pemuda yang menjadi contoh bagi orang lain !!!
- Biasanya yang menghancurkan pemuda adalah virus “merah jambu” yang memuat mereka  melalaikan Al-Qur’an. Ketika pemuda terhanyut dalam cinta, maka pikirannya akan selalu tertuju pada hal tersebut, alhasil yang lainnya terlupakan.
- Jadilah Al-Qur’an berjalan. Yang mampu mengaktualisasikan apa yang ada di dalamnya!!!

Berdasar tausyiah Ustadzah Ninih Mutmainah (Teh Ninih)
@Tabligh Akbar, Sabtu 8 Desember 2012,
Di Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga
LDK Sunan Kalijaga



By: Ratna Ni’Am

1 comment:

  1. ibumu ibumu ibumu, bapakmu,

    tapi kondisi ini akan berbeda ketika jihad sudah fardhu 'ain

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)