Thursday, November 29, 2012

Be a smart Muslimah




KARAKTERISTIK MAHASISWI MUSLIMAH SEJATI


Saudariku, kita adalah harapan umat. Kontribusi kita setelah lulus kuliah sangatlah dinanti. Apalagi menjadi lulusan UIN yang seharusnya mampu membawa nilai-nilai Islam yang baik terhadap masyarakat serta mampu mewarnainya dengan warna nilai-nilai Islam yang indah. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini. Begitu pepatah Ustadz Aa Gym bilang. Yuks sama-sama belajar menjadi sosok muslimah sejati, dimulai sekarang semenjak menjadi seorang mahasiswi...

Lantas bagaimana sosok mahasiswi muslimah sejati itu?
Marilah kita merenung saudariku, pantaskah kita dikatakan sebagai mahasiswi muslimah sejati sehingga dengan semangat kita berteriak “AKU MAHASISWI MUSLIMAH SEJATI!!!” atau malah meragukan dan berkata  dalam hati “AKU MAHASISWI MUSLIMAH SEJATI?!”
Hmm, baiklah...In The Name Of الله, begin...
Ibnul Qayyim Al Jauzy berkata:                       
“Apabila hati diberi makan dengan dzikir, diberi minum dengan tafakkur dan dibersihkan dengan taubat, maka dia akan melihat berbagai keajaiban dan merasakan berjuta tetesan hikmah”
Siap melihat berbagai keajaiban dan merasakan berjuta tetesan hikmah?
Marilah kita mulai merenung, bahwa mahasiswi muslimah sejati itu...
tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap...
tidak dilihat dari retorikanya saat aksi, tetapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan...
tidak dilihat dari banyaknya ia berorganisasi, tetapi sebesar apa tanggung jawabnya dalam mengemban amanah...
tidak dilihat kemampuannya menyelasaikan masalah, tetapi sejauh mana ia berusaha untuk tidak menjadi sumber masalah bagi sesama...

tidak dilihat dari tunduk matanya saat interaksi, tetapi sejauh mana ia menundukkan dan membentengi hatinya dari fitnah hati...

tidak dilihat paras wajahnya yang selalu dirawat dijaga, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menjaga kecantikan hatinya...
tidak dilihat rajinnya dia menghadiri syuro (rapat), rajin diskusi ataupun pandai berdebat, tetapi dilihat dari kontribusinya dalam mencari solusi...
tidak dilihat dari tasnya yang selalu membawa Al Qur’an, tetapi dilihat dari hapalan & pemahamannya akan kandungan Al Qur’an...
tidak dilihat dari aktivitasnya yang seabrek, tetapi bagaimana ia mengoptimalkan waktu dengan baik...
tidak dilihat dari banyaknya kegiatan, tetapi sejauh mana ia bisa selaras dan seimbang dalam menjalaninya...
tidak dilihat dari kesibukannya dengan berbagai macam amal, tetapi ia mengerti mana yang menjadi prioritas dan mana yang harus didahulukan...
tidak dilihat IP-nya yang cumlaude, tetapi bagaimana ia menjadi sosok yang bermanfaat untuk sesama dan umat...
tidak dilihat pesona keanggunan tubuhnya, tetapi sejauh mana ia mampu menjaga dan melindunginya dari segala fitnah dosa...
tidak dilihat dari kelihaiannya dalam berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara...
tidak dilihat dari kekhawatirannya digoda di jalanan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda...
tidak dilihat dari banyaknya ujian yang ia hadapi, tetapi dilihat dari sejauh ia bisa menghadapinya dengan rasa syukur...
tidak dilihat dari ketajaman matanya, tetapi dilihat dari sejauh matanya tidak meneteskan tangis karena keinginannya tidak terpenuhi...
tidak dilihat dari ketegasannya dalam mempertahankan prinsip, tetapi dilihat dari sejauh mana ia membungkusnya dengan kelembutan seorang wanita...
tidak dilihat dari kepiawaiannya memimpin orang lain, tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu memimpin dirinya...
tidak dilihat dari kecekatannya menyelesaikan tugas-tugas kuliah, tetapi dilihat dari sejauh mana ia pun cekat menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai calon ibu...
tidak dilihat dari kemampuannya menundukkan lawan bicara, tetapi dilihat dari sejauh mana ia bisa menundukkan hati seorang anak balita yang sedang meronta…
tidak dilihat dari banyaknya kesibukan di luar rumah, tetapi dilihat dari sejauh mana ia merasa lebih betah berada di dalam rumah...
tidak dilihat dari penampilan terbaiknya di luar rumah, tetapi sejauh mana ia tampil  lebih rapih dan lebih bersih di dalam rumah..
tidak dilihat dari shalatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya dengan Rabb di luar shalat...
tidak dilihat dari cinta sayangnya kepada orang tua dan sesama, tetapi dilihat dari besarnya kekuatan cintanya pada Yang Maha Mencinta...
tidak hanya dilihat dari istiqamahnya dalam berdluha & bertahajjud, tetapi sebanyak mana tetesan air mata penyesalan yang jatuh saat sujud...
tidak dilihat dari semangatnya melibatkan diri dalam berbagai kegiatan, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menjadikan amalnya sebagai tangga menuju cinta Allah...
tidak dilihat dari kemasyhurannya di kalangan masyarakat bumi,tetapi dilihat dari sejauh mana ia berjuang agar termasyhur di kalangan masyarakat langit...
tidak dilihat dari semangatnya menggapai cita-cita hidup, tetapi sejauh mana ia merindukan cita-cita mati syahid di Jalan yang Diridhai-Nya !!!

Nah jadi bagaimanatuh, apakah kita berani berteriak “AKU MAHASISWI MUSLIMAH SEJATI!!!” ataukah meragukan dan bertanya dalam hati “AKU MAHASISWI MUSLIMAH SEJATI?!”
Apapun jawabannya, bukan mahasiswi muslimah sejati juga apabila kita tidak mau belajar dan terus belajar. Hingga  menjadi mahasisiwi muslimah yang benar-benar sejati.
Semoga... amal-amal kita ‘kan mempertemukan kita kembali di Jannatul Firdaus… Aamiin...
Semangat belajar, dimanapun, kapanpun hingga sampai akhir hayat...


Berdasarkan kajian Akhlak PPMi Asma Amanina...
By: Muslimah binti Syarif

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)