Wednesday, June 27, 2012

BERBURU CAHAYA ILLAHI DI BULAN RAMADHON

Oleh : Desi Khulwani*
  Kehidupan manusia  takkan terlepas dari  banyaknya peristiwa-peristiwa yang  bersifat rasional maupun irrasional yang pasti dialaminya dan menjadi tugas manusia itu sendiri  untuk menangani setiap peristiwa dalam kehidupannya tersebut. Peristiwa yang saat ini akan dialami umat islam adalah kedatangan bulan Haram, kita bisa katakan bulan Haram adalah peristiwa yang bersifat irrasional yang terpaut pada lintas keyakinan dan keimanan.  Ditandai pula dengan merapatnya umat islam untuk membangun kesatuan dalam menjalankan ibadah-ibadah karena dari situlah Allah menurunkan banyak keberkahan, pintu rahmat, pintu ampunan dan pintu karunia-Nya yang ini dikatakan bersifat irrasional. Manusia ditugaskan untuk memelewati lautan kesabaran menahan hawa nafsu jasmani dan rohaninya yakni dengan berpuasa satu bulan penuh sebagai tanda pengabdian sebagai hamba Allah.
Apa yang seharusnya dilakukan manusia sebelum datangnya bulan Haram tersebut? Pertanyaan mendasar yang sangat dibutuhkan sebuah  perenungan akan persiapan menyanbut  bulan Haram. Perumpamaannya ketika cahaya telah redup dan berganti kegelapan maka tanpa berfikir panjang kegelapan akan terus memburu cahaya tersebut sehingga pada akhirnya kegelapan berubah menjadi terang akan sinar cahaya. Memposisikan analogi ini kepada kita sebagai cahaya yang hampir redup dan disinilah tugas kita yang penuh dengan kegelapan untuk memburu cahaya-cahaya Illahi dalam menyambut datangnya bulan  Haram, prinsip pokok dalam menyambutnya  adalah dengan  mempersiapkan diri. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah sebuah perenungan untuk mengenal Allah di dalam diri kita dengan jalan firman-firman-Nya yaitu kitab Al Qur’an yang sangat perlu untuk  dikaji dan di aplikasikan dalam kehidupan kita,  itulah yang berperan besar untuk lebih mengenal diri kita. Saat  kita mengenal diri kita apakah didalam diri kita terdapat nilai-nilai Illaiyyah-Nya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu kita tafakuri peran hati dan akal kita apakah telah mampu memproduksi keimanan, ketakwaan, kesabaran, keikhlasan, maupun kecintaan kita pada Sang Pencipta, karena hal itulah yang mampu mengidentifikasikan nilai illahiyyah dalam diri kita sehingga kita akan mengenal Allah. Karena pada prinsip tasawuf menyebutkan bahwa mengenal diri sendiri adalah sebagai gerbang mengenal Tuhannya.
Dengan mengenal siapa pencipta kita, kita dituntut untuk bersegera kembali ke asal diri kita sebagai hamba Allah, yang difitrahkan untuk mendekati-Nya dengan jalan spiritual sehingga akan kembali pada jalan terang dan kembali pada sumber kearifan. Kaitannya dengan bulan Haram yang akan datang, bahwa di bulan Haram Allah telah  menjanjikan pintu-pintu Syurga terbuka untuk umat islam yang mengiginkannya. Dan tugas kita umat islam adalah mengetahui sumber kearifan tersebut agar bisa menembus pintu-pintu Syurga yang telah disediakan itu, yakni  dengan cara memburu cahaya-cahaya illahiyyah yang kita gunakan sebagai makanan pokok di bulan Haram.
 Sudah menjadi fitrah manusia dengan bentuk keterbatasan dan kelemahan, dengannya Allah tetapkan Qalbu dalam kondisi yang tidak stabil dan Allah pulalah yang  telah menetapakan hati manusia yang terbolak balik, oleh karenanya  kekhilafan, kelengahan, ketidak stabilan hati adalah tempat manusia dalam kelemahannya maka disinilah peran bulan Haram yang telah Allah janjikan keistimewaannya. Diantara janji Allah adalah terbukanya pintu pintu syurga yang telah dijelaskan diatas, dimana kenikmatan syurga akan terasa jika kita memasuki rumah Ramadhan dengan penuh khidmat melalui jalan puasa selama satu bulan, jalan puasa inilah kita jadikan kendaraan untuk memburu cahaya illihiyyah karena didalam puasa terdapat banyak unsur diantaranya unsur menahan diri, unsur menjaga diri, unsur membersihkan diri, dan masih banyak lagi unsur-unsur yang menjadi startegi pokok dalam memburu cahaya illahi-Nya. Hingga akhirnya kita benar-benar mendapatkan cahaya Illahi itu dan terlahirlha kita dalam keadaan suci.
Oleh karena itu tugas manusia untuk menyambut kedatangan bulan Haram adalah dengan memburu cahaya illahi-Nya. Berdasarkan hakikat puasa itu sendiri dengan mengetahui pesan-pesan syariat untuk merasakan manfaat dan fungsinya. Pada dasarnya islam telah menghendaki kita untuk tidak berpuasa sekedar menahan lapar dan haus namun pengalaman rohanilah yang perlu terpelihara saat berpuasa. Karena puasa yang kita lakukan akan memproduksi nilai-nilai spiritual yang menjadi bahan pokok dalam menapaki jalan-jalan hidup selanjutnya.

* penulis bergiat di Biro Fund Rising LDK Sunan Kalijaga

1 comment:

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)