Tuesday, April 17, 2012

Izinkan Aku Mencintai Fiqih

Izinkan Aku Mencintai Fiqih

“Fiqih” sebuah istilah asing di telingaku, sesosok istilah yang hadir yang mengiringi nuansa hidupku. Ku adalah seorang muslim yang dilahirkan dari rahim wanita muslim. Islam kutahu sejak lahirku, Islam telah ada pada diriku sejak ku ditakdirkan untuk keluar sebagai manusia sejati dari alam rahim ibuku lalu lantunan adzan bapakku serta indahnya iqamah yang menjadi akhir dari sebuah persaksian bahwa aku terlahir dalam keadaan Islam.Setiap hari aku dirawat, ditimang-timang dan diajak bermain kesana-kemari tanpa rasa lelah sekalipun oleh kedua orang tuaku.Bukti betapa besar cinta mereka kepada anaknya. Mereka menghiasi hidupku dengan nasehat yang terucap dari bibirnya yang terdengar di hingga gendang telingaku setiap hari tanpa lelahnya. Nasehat-nasehat yang mereka hiaskan bukan menunjukkan sebuah kebencian mereka tapi ini sebagai tanda cinta mereka kepadaku agar kelak saat dewasa, aku tidak menjadi manusia yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.Ada sebuah perintah ibuku yang hingga kini masih terngiang dalam sanubari hatiku.Ketika itu beliau hampir setiap hari berkata,”Le, Ayo sholat sudah Ashar ini, kamu habis ini ngaji di masjid.Jangan sampai bolos lho, ibu nggak suka.”Ngaji?Ngaji dan Ngaji.Sebuah kata-kata yang sejak TK sudah tak asing lagi di telingaku. Mengaji merupakan sebuah aktivitas yang sangat menakutkan bagiku karena setiap akan berangkat mengaji ku harus dimarah-marahi oleh ibuku tercinta.Sebuah trauma yang mendalam bagiku ketika itu.Ku berangkat ke tempat kajian dengan hati yang sangat berat seberat memikul karung 1 kuintal yang sering kulihat di pasar.Yah begitulah, masa-masa kecilku.Waktu itu yang kuinginkan adalah main-main saja dengan teman sebayaku yang mereka tidak mengaji dan menghabiskan kehidupannya dengan bersenang-senang.Orang tuaku memang orang yang sangat kolot dengan agama.Seringkali beliau mengatakan kepadaku semasa itu,”Kamu harus bisa mengaji dan jangan seperti bapake yang nggak bisa mengaji.”

Kata-kata tersebut dalam sepanjang perjalanan hidupku senantiasa kucamkan pada otak yang paling dalam yang berisi akal serta hati kecil yang mampu menjawab sesuai nurani manusia. Hidup memanglah sebuah proses, meski dengan hati yang sangat dongkol saat kecilku namun, kujalani kehidupanku seperti air yang mengalir yang selalu menerobos apa yang ada di depannya. Hingga masa itu dengan kesabaran ku mengaji apa yang ada pada Al-Qur’an dengan metode pembelajarannya Qira’ati yang saat ini sudah membumbung tinggi namanya di Nusantara ini. Ku waktu itupernah belajar mengaji di sebuah surau yang biasa dikisahkan di dalam novel dengankedekilannya dan kurang terawat karena iniasiasi dari masyarakatlokal akan kemajuan ilmu agama sangatlah minim. Hingga waktu itu ibuku memutuskan untuk memindahkanku ke sebuah tempat yang dulu pernah menjadi memoriam bagi kakakku.Ku belajar mengaji di sebuah tempat yang sangat indah dan sehari dalam lima waktu lantunan adzan yang merdu serta aktivitas pengagungan hamba kepada Rabb-Nya ada pada tempat itu. Tempat yang menjadi sebuah histori penting bagi insan-insan yang berjiwa ksatria yang menyelami ajaran Islam hingga berjuang ke dalamnya layaknya tentara-tentara Rabb al-Jadid. Tempat itulah yang membuatku sedikit tahu akan ajaran Islam ini. Dialah Masjid “B”.Ku di tempat ini selain menyelami Qira’ati, ku juga dibina oleh guru-guru tercintaku bagaimana jalan-jalan untuk bisa mensucikan diriku dengan wudhu’ serta shalat. Dengan terampilnya bagaimana ustadzku mengajari kami sebagai santrinya, gerakan demi gerakan shalat yang pada waktu itu ku belum mengetahui apa sebenarnya yang menjadi esensi dari aktivitas ini karena beliau tak pernah menjelaskan kepadaku. Namun, hal itu terus kulakukan meski ketidaktahuanku belum membuatku mengalami rasa kegalauan yang berarti.

Usiaku di masa SD memang masih senang untuk bermain-main karena memang usiaku adalah usia-usia anak yang sangat butuh untuk melakukan aktivitas seperti itu. Usiaku di masa itu belum memunculkan sebuah pertanyaan besar sebenarnya apa yang menjadi jalan bagi hidupku ini. Usiaku lambat laun semakin bertambah dan jalan menuju kematianku jelas semakin dekat.Memang sebuah hal yang sangat dibenci ketika aku sendiri merasa belum bisa berbuat apapun untuk kemajuan bangsa ini.Ku terus merenung dalam detik-detikku.Di masa SMP, ku pernah menemui banyak hal yang belum pernah kutemukan sebelumnya.“Mandi Besar” sebuah istilah yang baru saja terdengar di telingaku, ku tak mengerti sebenarnya bagaimana tata cara melakukan mandi besar tersebut. Pada waktu itu ku gelisah karena ku sudah berusia sudah baligh yang ditandai keluarnya air mani memang hal ini juga belum pernah diajarkan di dalam sebuah forum yang dinamakan mengaji tersebut. Akhirnya selidik demi selidik ku baru mengetahui sebenarnya apa yang ada pada fiqih meski sangat sedikit sekali.

Dengan menanyakan ke beberapa guru SMP-ku yang sangat terkenal dengan tim agama di sekolah tercintaku itu membuatku semakin tahu. Lembaran-lembaran buku yang tebal, kaset-kaset VCD serta kaset pita yang berisikan tentang Islam menghiasi ruangan mereka.Bukan hanya ku sendiri yang sering main-main di tempat tersebut, tapi teman-temanku pun juga ada yang melakukan konsultasi seputar hukum-hukum Islam yang ku kenal pada waktu itu adalah fikih.Fikih memang memberikan acuan bagiku dalam melakukan aktivitas kehidupan.Fikih juga diperkenalkan oleh SMP-ku karena sekolah yang berbasis Islam meski titik tolaknya adalah fikih ibadah.Ku pada waktu masuk masa-masa MOS telah diperkenalkan bagaimana shalat Dhuha, bermunajat kepada Allah dengan lantunan do’a serta di setiap seusai shalat kami diberikan pengarahan seputar fikih.Memang sebuah adaptasi yang sangat berat bagi teman-temanku yang kurang mencintai aturan-aturan Allah karena mereka menginginkan sebuah kebebasan yang mutlak tanpa sebuah aturan yang jelas.Apa daya ketika manusia tanpa ada aturan, tentu apa yang terjadi pada dunia ini. Kehancuran pastilah ada di mana-mana.Ini adalah sebuah sunnatullah karena manusia sudah tak mau lagi diatur oleh Sang Khaliq, Pencipta seluruh alam semesta, kehidupan serta manusia.Memang SMP-ku dulu masih sangat tergolong baru karena baru saja dibangun sehingga kurikulum yang diterapkan pun masih mencari-cari model yang pas.Di sekolah itu, ku menemui banyak sekali pengalaman religius dari guru-guruku yang dulu pernah melakukan studi di beberapa universitas Islam yang ada di Indonesia.Mereka ada yang menceritakan bagaimanakah kita harus melakukan toleransi kepada saudara kita yang berbeda dalam melakukan ibadah.Termasuk seperti antara Muhammadiyah dengan NU atau Salafy yang memang berbeda madzhab dalam urusan ibadah. Hal-hal tersebut akan kami kenang selamanya. Aku dan beberapa temanku di sana, yang sangat terkenal dengan sebutan tiga serangkai pun tak kalah dengan mereka. Kami suka mencari sebuah pertanyaan-pertanyaan baru yang belum muncul seputar hukum Islam.Ini adalah sebuah langkah awal untuk bisa mencintai fikih.Meski kami masih belum mengetahui teks asli dari kitab-kitab, tapi aku mencoba untuk segera terus menyelaminya, menyelami samudra yang luas yang tak bisa dijangkau oleh mata telanjang yang seakan tak mampu untuk bisa bertahan karena dangkalnya ilmu untuk mempersiapkannya.

Ada hal-hal aneh yang banyak kutemui waktu SMP, ku dapati guru-guruku pada umumnya yang melakukan shalat dengan sangat cepatnya secepat kilatan mobil di jalanan sehingga tak membuatku terkesan padanya tapi ada sebuah hal yang aneh dengan salah satu guruku.Guruku memang tampak aneh dari kulit luarnya.Ia kurasa suka meniru gaya-gaya Timur Tengah khususnya Arab. Bagaimanakah mode pakaian yang digunakan oleh orang Arab?Tentunya sangat berbeda dengan yang ada pada di Indonesia. Di sana para lelaki memakai gamis, berjenggot, mencukur rambutnya setiap kali panjang, serta yang sangat unik adalah memakai celana yang disebut-sebut oleh orang yang berlidah Jawa dengan istilah “cingkrang”. Orang-orang seperti ini memang bagi mayoritas umat Islam menunjukkan kesombongannya bahwa ia adalah satu-satunya yang memang benar-benar fanatik dalam menerapkan Islam. Hal ini juga mengingatkanku ketika peristiwa Bom Bali I yang katanya dilakukan oleh golongan kaum Islam yang model-model seperti ini.Ketakutan memang menderaku waktu itu ketika melihat dan didekati oleh orang-orang seperti ini.

Namun dengan seringnya waktu yang terus berjalan tanpa henti sedetik pun, ku mulai memahami bagaimanakah mereka. Aku yang dulu sangat takut untuk mendekat dengan guruku itu ternyata ku tahu dan mengenali beliau lebih jauh.Ku semakin terkesan dengan butiran-butiran nasehat dari beliau.Nasehat yang memberikan sebuah pencerahan bagi kita yang keras hatinya.Nasehat yang membuat kita menjadi insan kamil, insan-insan yang dicintai dan dirindukan oleh ummat.Apa yang ada pada beliau memang menjadi sebuah kontroversial di sekolahku karena beliau adalah satu-satunya guru yang mau tampil beda dan mampu bertahan dalam keterasingan dunia ini. Dunia ini tanpa fiqih, tanpa hukum-hukum Islam serasa tak manis. Takkan ada semut-semut yang akan mencarinya, tiada manfaat jika tanpanya. Dalam menerapkan fikih Islam memang tak semudah yang dibayangkan.Inilah fakta yang jelas bagiku, ku telah diberikan sebuah lukisan hidup yang gamblang oleh Allah-ku.Allah yang senantiasa memberikan pelajaran bagi hamba-Nya yang terbuka pikirannya sehingga tak mendangkalkan arti hidupnya.

Hidup adalah sebuah warna. Warnalah yang memberikan sebuah keindahan. Keindahan membuatku mau memandang pemandangan pematang-pematang sawah yang ditumbuhi oleh padi-padi yang masih hijau tegak, bunyi jangkrik yang ternyata langsung menusuk hatiku untuk segera melakukan introspeksi diri.Warna kehidupan tak selamanya harus hijau namun berwarna-warni. Begitulah fikih yang aku temui di berbagai tempat dalam penerapannya.

Perjalanan hidupku yang kuiringi dengan fikih sebagai hukum-hukum yang diaplikasikan semakin matang ketika menginjak masa SMA.Masa-masa itu memang sebuah masa pencarian jati diriku.Di sini ku sering diajari oleh kehidupan sebenarnya bagaimanakah aku menyikapi sebuah persoalan yang sering diperdebatkan di kalangan kaum muslimin.Ku semakin terbuka dengan madzhab-madzhab yang dikeluarkan oleh para mujtahid terdahulu seperti Imam Asy Syafi’I, Imam Hambali, Imam Abu Hanifah serta Imam Malik.Aku mencoba semua madzhab ini dengan mengaplikasikannya.Aku mendapatkan tsaqafah Islam khususnya fikih ketika bergabung dengan rohis di SMA-ku.Rohis itulah yang mengantarkanku untuk lebih mencintai fikih.Kajian-kajian yang dilakukan setiap minggunya serta mentoring dari guruku yang hingga kini selalu ku kenang, semoga beliau senantiasa diberikan keistiqamahan dalam menyusuri kerasnya hidup ini.Rohis telah menuntunku untuk mengetahuinya lebih dalam dari fikih ibadah, fikih muamalah, fikih nafsiyah hingga fikih jihad yang dikaji dari berbagai madzhab.

Dan aku pun mulai mengerti dengan apa sebenarnya yang diinginkan Allah atas kita, ternyata ia menginginkan kita untuk beribadah kepada-Nya. Tentunya Allah akan sangat mencintai manusia yang mau mendekat pada-Nya. Apalagi insan tersebut mulai memahami apa yang dimaksud dengan kebangkitan pada dirinya. Kebangkitan yang berawal dari sebuah penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan pada Allah Azza Wa Jalla. Ini merupakan sebuah pondasi yang kokoh untuk segera melaksanakan syari’at Allah. Belajar fikih tentu tanpa sebuah landasan akidah yang sangat kuat serta keinginan besar kita untuk mengaplikasikan sebagai sebuah bentuk konsekuensi kita karena kita telah diciptakan oleh Allah Azza Wa Jalla. Sehingga inilah yang memang menjadi kecintaanku padanya. Kecintaan pada fikih yang nantinya akan mempermudahku untuk semakin memahami Allah Azza Wa Jalla. Itulah yang kurasakan semenjak SMA, semenjak ikut dan terjun di rohisku.Rohisku telah membuka kesempitan cakrawala berpikirku, dulu aku modelnya yang suka ngotot jika tidak sesuai dengan pemahamanku.Ternyata semua itu harus dihapus, egoisme dalam bermadzhab juga tidak dicontohkan oleh para Imam-imam terdahulu.Oleh karena itu, aku pun semakin mencintai fikih yang dulunya hanya sebatas fikih ibadah yang khusus (mahdah) saat ini cakupannya sangat luas.

Ku baru mengetahui bahwa Islam tak sesempit ruangan kelasku, Islam tak sesempit kotak kardus yang hanya mengurusi hubungan manusia dengan Ilah-Nya tapi Islam di dalam fikihnya juga mngatur hubungan antara manusia dengan manusia lainnya.Misalnya ku sering juga bertanya-tanya dalam hati sanubari mengapa hingga dari dulu sejak ku mengaji di TPA tidak pernah diajarkan fikih yang mengurusi masalah pergaulan antara laki-laki dengan perempuan. Ku juga bertanya-tanya sebenarnya dari dulu yang diajarkan hanya masalah fikih thaharah, shalat ataupun munakahat dan tidak pernah dijelaskan bahwasanya keterikatan dengan hukum syara’ pasti wajib dilakukan oleh muslim yang sudah menyakini syahadatain di dalam dirinya. Dari sinilah, ku mulai menemukan betapa dangkalnya berpikirku, ku merasa seperti katak dalam tempurung.Inilah sebuah kesadaran bagiku, inilah sebuah kebangkitan berpikirku. Ku menemukan apa yang ku inginkan. Politik yang dulunya ku anggap sebuah candu karena sebuah skenario fakta yang dibuat oleh elit politik di negeri ini seakan-akan politik itu sesuatu hal yang tak usah untuk dipikirkan ditambah dengan kyai-kyai yang langsung terjun ke dalam ranah percaturan membuat Islam seolah-olah tak bisa memimpin di situ.Berangkat dari rohis dengan pengasuhan guruku, ku tahu fakta-fakta selama ini yang memang menjadikanku bertanya-tanya semua bisa terjawab.Memang hukum di Indonesia sebagian menggunakan hukum Islam (fikih) tapi diterapkan pada segmentasi tertentu seperti kawin cerai dan pembagian harta waris bukan mengurusi politik.Di sinilah ku mulai menemukan fikih tentang jinayah, muamalah, uqubat yang memiliki sebuah konsepsi yang jelas dan memang sekarang harus diperjuangkan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Inilah awal baruku, memulai sebuah kehidupan yang dirasa sangat asing.Sebuah bisyarah yang dirasa oleh mayoritas orang sebuah mimpi yang takkan terwujud.Di situlah ku mulai tergugah untuk mencintai fikih Islam secara kaaffah.Fikih Islam akan menjadikan umat manusia makin terarah meski dalam penegakannya pun mengalami sebuah badai tsunami kehidupan yang amat besar. Nah, dunia baruku.Dunia yang mengharuskanku mencintai fikih serta ushul fikih karena ku tak hanya ingin menjadi penikmat sebuah hidangan tsaqafah Islam tapi ku ingin menjadi Imam Asy Syafi’i yang mampu mencetuskan sebuah ushul fikih serta fikihnya.Teruntuk seluruh keluargaku, serta Allah yang kucintai disinilah ingin ku katakan Izinkan Aku mencintai Fikih. [MujahidElQalam]

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)