Tuesday, April 24, 2012

Bias Cinta


“Lupakan!!, lupakan cinta yang tak akan sampai pada pelaminan”. Berkali kali kuhujamkan nasehat Ust Anis mata tersebut dalam hati setiap tiba tiba muncul heningan heningan kecil tentang dia. Atau mungkin tepatnya bukan “melupakan” tapi coba menunda, meredam rasa cinta ini. Hmmmm... entah siapa yang tak pernah jatuh cinta, mungkin tidak ada, setiap manusia pasti pernah merasakannya. Sekarang ia sedang mekar dihati. Mungkin juga sedang diuji. Mungkin anugerah, mungkin juga musibah.
Hmmm... paling tidak seperti itulah yang sekarang kurasakan,agaknya sudah sekitar 1-2 pekan ini aku gelisah. sekian lama, bertahun tahun rasa itu tidak muncul, tiba tiba tanpa diundang, disela sela aktifitas dakwah, tiba tiba rasa itu muncul. Hadeh. Memaksa selalu memikirkannya, memaksaku menjadi gusar hanya karena hari ini belum mengirim pesan kepadanya. Memaksa tidurku terlambat beberapa jam, hanya karena pikiran melayang memikirkannya.
Rasanya tersiksa memahami cinta jiwa yang tiba tiba muncul itu. Memang menjaga pandanganpun belum cukup untuk meredam munculnya rasa cinta ini. Sebab dalam aktivitas yang mutlak memerlukan interaksi dan sinergi yang lebih lanjut, sering ada Chemistry-Chemistry kesepemahaman, sepersetujuan, sevisi, dll yang membuat dua jiwa menjadi lega karena merasa telah ada yang mendukung dan memunculkan saling keterikatan antara keduanya, terlebih keduanya adalah jiwa yang memang diciptakan untuk berpasang saling melengkapi, maka cukuplah syarat tersemainya benih benih kasih dan cinta secara khusus antara keduanya. Sebab setiap jiwa yang masih single, wanita maupun pria pasti mencari kegenapannya jiwanya. Memang cinta itu fitrah dan anugerah Allah kepada manusia. Akan tetapi sering ditemui dalam perjalanannya ia berubah menjadi virus ganas yang memalaskan, melemahkan dan melalaikan.
Sebelum mengganas, Disela waktu, mencoba merenungkan lebih dalam apa yang sedang kualami, mencoba mengobati diri, berdoa menyadarkan diri bahwasanya ternyata sudah terlalu mabuk karenanya. Sudah beberapa waktu tersia, sudah beberapa lembar tadarus terlewat karena sibuk dengan pesan pesan singkat, sudah beberapa obrolan bermanfaat tersia karena malah menjadi ajang curhat.
Karena cinta adalah energi, maka mutlak ia memerlukan tindakan. Setiap tindakan pasti perlu motif. Maka munculah banyak sekali bias bias, motivasi yang kotor, ibadah yang kotor, dll. Yap bias itu adalah motif, antara motif murni karena mengabdi dan motif untuk memberi. Antara motif cinta misi dan cinta jiwa. Tipis bedanya. Bahkan mungkin membingungkan.
Bias bias terjadi ketika muncul penyimpangan antara motif ubudiyah kepada Allah berubah menjadi motif ubudiyah kepada obyek cinta jiwa sebagai bentuk dari cinta misi. Kadang ungkapan “aku cinta padanya karena Allah “ menjadi kata ampuh untuk menutup bias bias tersebut. Padahal sebenarnya didalam hati berbeda.
Bias seperti ini biasa terjadi dipuncak gelora cinta yang sedang tinggi, semacam puncak kenikmatan emosional yang meledak, dimana ketika realitas sesaat lenyap. Tetapi ketika kita terjaga pada pikiran yang bening, barulah kita menyadari bahwa kita baru saja mabuk.
Ada cinta yang membunuh, mungkin ungkapan yang berlebihan atau lebay, seperti ungkapan syair lagu De-masive “ Cinta ini membunuhku”, begitu mengerikan. Ini terjadi tidak selalu karena kita kehilangan akal sehat. Akan tetapi lebih kepada karena kita kehilangan kendali prinsip dan nilai.
Yang ada hanya kenikmatan imajiner. Tidak ada kenikmatan atas pemaknaan spiritual. Selalu ada sekat antara imaji dan realita. Seperti meneguk air laut, setiap teguk kenikmatan imaji akan menghantarkan pada dahaga yang baru yang terus menyiksa. Inilah derita yang sebenarnya yang dialami orang orang yang menelan bias ini.
Maka menarilah jiwa jiwa itu. Menari bukan karena tariannya indah, mereka menari diatas luka. Mereka menari karena jeritan dan luka yang membuat mereka menghibur diri dengan menari. Menyanyikan lagu tentang jiwa yang lelah dan harus menghibur diri dalam kesia siaan. Miris, perih dan menyakitkan. Mulanya hanya bias kecil, tapi diujung sana ada luka besar yang siap menganga dalam kisah perjalanannya.
###
Membicarakan cinta, sepertinya masih merupakan hal tabu dikalangan aktivis dakwah, kali ini mencoba memberanikan diri mengungkapkan kegelisahan jiwa. Aktivis juga manusia, punya fitrah, punya hati dan semangat yang kadang kacau. Perlu keterbukaan, hingga tak perlu lagi kita dengar cerita cerita memalukan aktivis dakwah yang sembunyi sembunyi Affair dibelakang. Sekali lagi perlu keterbukaan diantara aktifis-aktifis dakwah,mad’u kepada jundinya, murabbi kepada mutarabbinya. tidak malu untuk membuka diri, bercerita, berbincang, curhat, baik tentang suka maupun duka, kebaikan atau keburukan, kelebihan maupun aib. Yakinlah jamaah dakwah ini tidak akan mengucilkanmu hanya karena kekhilafanmu, jamaah ini akan membersamaimu menyelesaikannya. Jamaah ini akan menjaga izzah saudara saudaranya.
Sedikit curhatan kecil, semoga bermanfaat bagi rekan rekan sekalian. Disadari atau tidak anda adalah salah satu pemilik bias bias itu, mungkin anda telah atau sedang atau kalaupun belum pernah, pasti suatu saat nanti anda akan merasakannya.
Kita perlu instrospeksi, perlu membaca dan belajar dari kisah kisah cinta lama, laila dan qais, laila dan majnun, majnun mati dengan membawa kegersangan hati dalam cintanya kepada laila yang pupus. Dan pastikan kita tidak termasuk orang yang mengcopy-paste kisah cinta mereka. Kita juga perlu belajar kisah cinta Rosul dan Para istrinya, kisah Ali dan Fatimah,mereka adalah contoh 2 jiwa yang menyatu karena Allah, kisahnya indah, melankolis namun bahagia. maka pastikan kita adalah orang orang yang mencontoh mereka.
Merenung lebih dalam, perlu tegas terhadap diri sendiri. Namun pantaslah kita juga perlu bersyukur, mengutip pernyataan dari seseorang “cinta itu anugerah Allah, juga membuktikan bahwasanya hati kita masih sehat dan tidak keras”
AH
24 April 2012

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)