Wednesday, March 21, 2012

Negeri 5 Perkara



Di negeri 5 perkara
ada wanita paruh baya diseberangkan gerimis
tangan kanannya berjalin erat putrinya
tangan kirinya mengibaskan tangis.


Dinegeri 5 perkara
Badai badai bergemuruh di ufuk fajar
Tangis ketakutan meriuh diujung senja
kau tetap mendengarnya, meski telah kau tutup telinga dan berselimut doa

Di negeri 5 perkara
sekuntum bunga itu telah merangas
Hanya tersisa kisah wanginya di empat penjuru
Hanya tersisa mekarnya dalam buku buku bisu


DI negeri 5 perkara
riuh redam gurauan tuan tuan tanah
gerlap gerlap cahaya dari jendela
atap rumahnya badai, dindingnya duka, lantainya luka

Di negeri 5 perkara.
tk bisa kau usik tawa pesuruh itu
berkias tentang segerombolan ikan yang menyerbu umpanmu.
Sedang di perjalanan pulang, ia bocorkan perahumu


negeri itu bagai luasan hutan
pagi harinya ada gonggong serigala menakutkan
di waktu dhuha riuh redam kecurian
siangnya bunga bunga kering merangas
sorenya gerimis isak tangis
malamnya celaka, jangankan lelap dalam mimpi, terjaga saja gusar.

ia hanyalah kubur yang rata dengan tanah
ia hanyalah kerangka yang tak bertanda

namun siapa berani berkata negeri itu telah tiada
siapa berani mengadu,
siapa berani berharap untuk tidak terbangun di pagi harinya

maka biarkanlah kami bertapa, berfikir meski dalam riuh suasana
semoga tuhan segera bosan dengan doa doa, rintik tangis dan hening-hening cipta .
membiaskan sedikit cahaya untuknya, 
menghentikan riuh redam tangisnya
membungkam gurau dari mulut mulut tuan tuannya
membangkitkan keharuman bunga bunganya




0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)