Saturday, March 17, 2012

Frasa Yang hilang



Langkah kami terseok, menyusuri ribuan lorong kehidupan, penuh dengan kesengsaraan, kesepian dan terluka, beralaskan duri, berselimut kegelapan, pengap, gelap dan penuh dengan racun racun yang membuat akibat buruk dalam hidup, bahkan racun racun itu menyempitkan ruang dan memendekkan waktu, hingga hidup kami benar benar sepi, kosong dan sia sia. Bodoh perihal cinta, bodoh memaknai cinta, yang selalu “menuruti” atas nama cinta, yang selalu “meminta” atas nama cinta.

Setelah menikah, hidup berdua bukanlah jaminan, juga bukanlah pilihan untuk menuju kehidupan yang lebih baik, saling mengisi, saling membagi dan saling mengobati.

Entah berapa kali kami terjatuh, penuh darah dan luka disekujur tubuh, penuh nanah dari luka yang tidak teruruskan karena begitu sempitnya ruang, membosankan, tak hanya sekecap dua yang kami rasakan, namun beribu bahkan berjuta kecap yang setiap harinya membuat kami letih, perih dan tertatih. Hingga akhirnya kami terseok, jatuh, dan pingsan.

Burung burung camar yang terbang, aku ingin seperti burung, terbang kesana kemari penuh suka dan cita, tiada masalah yang membebaninya.

Ketika pagi menjelang, sinar terang tak lagi mampu menulis dan mngukirkan kesejukan embun pagi dihati kami, muka kami pucat, suaraku berat, nafas semakin ahri semakin tersendat dan segalanya seakan semakin berat.

Albert bertemu lastri di persimpangan jalan, ditengah kerinduan besar mereka bertemu, menengadahkan badan, berpelukan dan merangkai jarring asmara antara keduanya, hingga hidup merekan terasa lebih erat, rekat dan semakin bersahabat. Itu malam pertama, masih indah dan menyenangkan. Seminggu dua minggu, setahun dua tahun, mereka berjalan bersama, hingga akhirnya menemui lorong lorong hidup yan penuh duri, penuh jurang, dan lender licin pada jalannya.

“ sayang, mawar itu indah, sungai itu begitu deras menyeramkan namun bersih, sayang,…. apakah kita akan melewati kebun kebun storwberi itu? apakah kita akan menggembala domba domba itu? apakah kita akan memetik buah apel itu?, apakah kita akan menjadi pemilik rumah tua itu?dan semua pemandangan itu akan menjadi milik kita?” kata lastri ketika akan tiba di depan jurang kehidupan, dia melihat begitu indahnya cita cita, ada kehijauan, domba domba yang riang, semilir angina yang membawa aroma doba baker dan rinai pohon apel yang menghijau di tepi jurang seberang

“pasti sayang…. Semua yang kita lihat akan kita dapatkan, tapi aku meragu, dimana akan kusembunyikan kelamahanku, dimana akan kubuang rasa pengecutku, daimana akan kupasang penyumpal telinga ketika kau menangis. Sedangkan duri duri siap menghadang, dan mungkin aku akan pingsan”

“ kita akan berjalan, kita akan turun, kita akan saling berpegangan, dan kita akan merapatkan badan, hingga badan kita menjadi kokoh dan bijaksana. Kita akan saling tukar pikran, kau lelaki dan aku wanita. Kau didepan sebagai penunjuk arah dan aku dibelakang sebagai penghapus jejak, agak tiada binatang buas mengikuti jejak kita. Kau punya pikiran yang berwawasan, sedangkan aku punya mulut dan hati yang lembut yang siap membari semangat akan kebarsamaan ketika kau letih. Kau punya pedang dan aku akan mengasahnya setiap pagi. Ketika kau terluka, aku kan mencium lukamu hingga lukamu sembuh.”
“Sungguh kau istri yang baik, tapi aku merasakan badai yang dingin, akankah kau akan menghangatkanku wahai cintaku?”
“tentu, aku punya kulit tebal, yang syara akan unggun cinta, yang akan menghangatkanmu”


Dan perjalananpun dimulai, selangkah demi dua lagkah, mereka berpegangan, ber erat-erat diri, dan saling menghangatkan

“ suamiku, bunga mawar itu indah, merah merekah, putih bersih dan biru menyejukkan, akankah kau mau mengambilkan itu untukku wahai suamiku?, aku takut akan lebah, sedangkan di sana banyak sekali lebah.”
“tentu istriku, akan kuambilkan semuanya untukmu, ini istriku, bunga bunga yang kau pesan, tapi istriku terlalu banyak luka di badanku, akankah kau akan mengobatinya dan kita akn meneruskan perjalanan”
“ tentu sayangku, akan kutiup dan aku cium lukamu hingga kau sembuh dan kita melanjutkan perjalanan”
“mari kita melanjutkan perjalanan”
“suamiku, apel itu sepertinya manis, dan aku sangat lapar, maukah kau mengambilkannya untukku wahai suamiku?, aku takut ketinggian”
“pasti, aku akan memanjatnya untukmu istriku. Ini pesananmu, tapi tubuhku kaku, terlalu banyak tulang yang patah ketika aku terjatuh dari pohon itu”
“ akan kupijat dan akan aku urut patah tulangmu, hingga kita dapat melanjutkan perjalanan”

“suamiku, air itu sangat jernih, padi itu amat bagus, dan domba domba itu amat gemuk, pucuk pucuk daun teh yang segar, kelapa yang gurih, jeruk jeruk yang segar,stroberi yang manis, dan air susu sapi yang segar . Maukah kau mengambilkan mereka untukku”
“tentu istriku, aku akan mengambilkan semua apa yang kau sebut untukmu”
“maaf, suamiku sepertinya kau merasa letih, akan kupijit dan kuurut urat uratmu, agar kita bias melanjutkan perjalanan, tapi sebentar suamiku, bukankah kita punya banyak makanan, daging domba dan lain sebagainya, maukah kau memasak untukku wahai suamiku?”
“ tentu istriku, akan aku masakkan masakan paling lezat untukmu”
“ mari kita melanjutkan perjalanan suamiku”



Dan tengoklah pertikaian demi pertikaian yang terjadi. Jaring Batu hanyalah sebuah sebab, yang membuat perahu-perahu dibakar, orang-orang diculik, dipukul, dan perang saudara kemudian membangun tembok yang sangat angkuh di antara orang-orang Pambang dan orang-orang Rangsang. Hanya egoisme sesat yang membuat mereka lupa bahwa mereka sesungguhnya berasal dari satu rumpun, satu ras, satu suku. Dan mereka para nelayan, yang mestinya adalah para penjaga tepian ini, tapi kini mereka telah menjelma para nelayan yang meruntuhkan tepian ini.

Dan mereka melanjutkan perjalanan kehidupannya

“suamiku bulan amat sangat indah, aku ingin memilikinya, aku ingin memeluknya, dan menjadikan penerang bagi perjalanan kita. Maukah kau mengambilkannya untukku, akan aku sulamkan sayap untukmu wahai suamiku, agar kau bisa terbang untuk mengambil bulan itu untukku”
“ baik istriku, akan aku petik bulan itu untukmu”

Albert terbang ke bulan, sementara Lastri menunggu Albert datang membawa pesanannya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tahun berganti tahun, Lastri tetap menunggu, lastri duduk termangu menanti bulan ada didekapannya. Namun penantian itu sia sia, Albert telah mati , tak kuasa menahan letih

Hingga pada suatu pagi, turunlah sepucuk surat dari langit


Yang hidup dibalik bukit, tak takut menyambut maut.
Tapi ia, juga orang-orang yang tubuhnya telah lama tertanam dan tumbuh-biak-berakar di kampung petani ini, adalah sekelompok paranoid, yang menanggung kecemasan pada dua frasa. Dua frasa ini merupa hantu, bergentayangan, menyusup, menyelinap, dan acapkali hadir dalam sengkarut mimpi, mengganggu tidur. Dan saat bayangannya hadir, ia membawa peristiwa-peristiwa buruk, yang menyerang, datang beruntun. Maka, ketahuilah bahwa dua frasa itu sesungguhnya kini hadir lebih sebagai sebuah energi yang menghancurkan,menghancurkanku, dan menghancurkanmu, selain bahwa ia juga sedang menghadirkan dirinya dalam sosoknya yang energik, molek dan penuh kemegahan.
Aku hanya ingin mendengar dua frasa itu darimu....
Sekarang aku telah pergi, tiada lagi apel, padi, domba,untukmu wahai istriku

Dan lihatlah kebelakang
tiada yang bisa memuaskanmu.

Lastri menangis, bulan tetap ada pada tempatnya, tak berubah sedikitpun, dan pemandangan di depan telah menjadi sepi, tiada domba, apel, anggur, padi menguning dan pucuk teh yang segar. Dan ia sadar itulah akhir penjalanannya. Akhir pada bulan yang tetap tenang, akhir pada suaminya yang melayang dibawa angan angannya pada bulan, dekapan bulan dan terang jalan kehidupan.

Dan Lastri melihat kebelakang, semua telah menjadi kering, tak ada sisa lagi untuknya, semua telah sirna ditelan hawa nafsunya. Dan ia ingat pada suaminya, suaminya yang merasa takut menghadapi dirinya. kini tak lagi ia akan temu, kecuali hanya kesendirian, dan penyesalan

Tiada lagi masa depan, waktu terhenti, ruang menjadi sempit dan segalanya yang diangan angan, dan semua yang telah terjadi menjadi sia sia. Hanya ada bayangan, frasa yang tidak tertemukan.
ariefvoltax

3 comments:

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)