Friday, March 16, 2012

Aku Tidak Kecewa


Perkenalkan, Namaku Arif, aku akan sedikit bercerita tentang sahabatku. Ada pelajaran menarik tentang etos kerja yang saya simpulkan dari sahabatku itu. Aku sebut saja dia si Ahmad.

***

Suatu ketika Ahmad diundang untuk mengisi sebuah pengajian di suatu desa terpencil. Membutuhkan jarak tempuh dan waktu yang lama untuk ke desa tersebut. Ahmad menyanggupi undangan tersebut. Ahmad persiapkan segalanya dengan baik. Menyiapkan materi, berlatih didepan kaca, mempersiapkan sarung dan peci, bahkan dibela belain membeli parfum. Berharap acara tersebut dapat berjalan dengan baik dan tidak mengecewakan

***

Ahmad sengaja datang lebih awal agar tidak telat mengingat perjalanan yang jauh. Dan tidak diduga ternyata perjalanan tidak terlalu lama seperti bayangan ahmad sebelumnya. Ahmad sampai ketempat tujuan 2 jam sebelum acara dimulai.

***

Sampailah ahmad disebuah masjid yang dijanjikan untuk acara tersebut, tidak ada tanda tanda kerumunan dan kemeriahan sebuah acara pengajian. Sengaja ahmad pergi menjauh dari masjid itu, dan mampir kesebuah warung didekat masjid, ia amati. Seharusnya acara dimulai 30 menit lagi, tetapi ahmad tidak melihat adanya kehidupan di masjid tersebut.

Menurut undangan, pengajiannya seharusnya sudah dimulai, masih saja belum terlihat kehidupan. Ahmad terus menunggu hingga 2 jam. Dan tetap saja tidak ada kehidupan.
Rupanya acara pengajian tersebut batal tanpa ada konfirmasi dari pihak panitia kepada Ahmad, kemudian ahmad pulang.


Sampailah ahmad dirumah, aku bertemu dengannya dan kutanya
“bagaimana acara pengajiannya mad?”
ia menjawab
“luar biasa, hari ini aku sangat senang sekali”.
Kemudian ia melanjutkan cerita yang sebenarnya. Aku terkaget keheranan
“ loch kok malah seneng mad? Bukanya kamu harusnya kecewa sama panitia ?”

dia menjawab dengan jawaban yang menurut saya sangat mengagumkan
“ ya aku senang sekali Rif,”.
Aku ulang bertanya “ kok gitu? Harusnya kamu menyesal dan kecewa, hadeh...”

dia tambahkan keterangan

“ iya harusnya aku kecewa, apabila orientasiku untuk hasil, tapi aku lebih menikmati kerja dalam kewajibanku, kenikmatan yg aku rasakan adalah ketika aku menyelesaikan kewajiban kewajiban yang harus aku tunaikan, kewajiban orang yang diundang kan memenuhi undangan, dan untuk memenuhi itu aku sudah persiapkan semua, itu yang membuat aku senang,aku sudah melakukan kewajibanku, soal hasil segalanya telah ditentukan Allah,aku sedih dan kecewa ketika aku harus meninggalkan kewajibanku, ketika ada dua pilihan, dan harus ada satu yang didahulukan, aku sedih dengan hal itu, harus meninggalkan kewajibanku itu. Rif. kita perlu belajar itu, menikmati kerja bukan hasil, hasil hanya bonus dari Allah, karena sedikitpun kau tak akan bisa memastikan usahamu akan berhasil,banyak orang menikah lama belum punya keturunan dan kemudian cerai karena ia tidak menikmati kebersamaan dengan istrinya, banyak orang berusaha keras tapi gagal kemudian bunuh diri karena malu dan kecewa, atau banyak orang mempersingkat kerja dengan kecurangan kecurangan untuk mendapatkan hasil, tetntu itu dicatat Allah sebagai hasil yang haram. jika kau berorientasi hasil maka tunggulah kehancuranmu, kau akan dirundung kekecewaan, kemalasan bahkan kehancuran ”

“kok gitu????” kataku terheran

“ terkadang manusia sekarang kebanyakan berorientasi hasil, misal kamu bekerja 30 hari dengan gaji 10 juta, mau??”
“mau” kataku.
Ia melanjutkan “terus karena kerjamu bagus, kamu diijinkan bosmu hanya bekerja 20 hari dengan gaji yang sama, mau?”
“mau” kataku dengan cepat,
“ kemudian bosmu mengijinkan lagi dan memberi kelonggaran kamu tidak harus bekerja tapi mendapatkan gaji 10 juta,mau?” sambungnya.
”mau banget lah mad,” kataku agak tinggi.

Kemudian ia melanjutkan pernyataan yang menurutku itu jangan sangat JLEB JLEB JLEB, menohok..
“ maka tunggu aja kehancuranmu ” katanya

“Kok??????” kataku...
“pikir aja sendiri, hehe “katanya, sambil tertawa dan meninggalkanku.

***

“Kemudian pelajaran dari cerita ini apa pak penulis??? kok ga ada kesimpulannya?” Kata pembaca
“pikiren dewe, Pikir aje sendiri, hehehehe” kataku sembari tersungging... :D

Ariefvoltax
12 Feb 2012, 20.12

2 comments:

  1. manusia belakangan sudah kehilangan kenikmatan menikmati proses, lebih memilih dan menomor satukan hasil, hingga tak heran jika manusia sekarang sudah mulai menghalalkan segala untuk mendapatkan hasil sesuai keinginannya.

    artikelnya bagus. menyadarkan

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan Sopan dan Santun :)